ads

ads

Slider[Style1]

Tajug Syahadat adalah acara rutin bulanan, dengan konsep silaturrahim pikiran berbentuk ngaji bareng, sinau bareng, dialog, diskusi dan apapun yang sifatnya kebersamaan untuk mencari fokus kerangka berfikir, menajamkan hati kemudian mencari formula bersama perihal masalah aktual melalui pendekatan kebudayaan dan humanisme..... (klik di sini)

Artikel

Style3[OneLeft]

Style3[OneRight]

Style5

Muqaddimah Tajug Syahadat
edisi Februari 2017
" Makelar Surga"
Pertama-tama, mari bahas secara kebahasaan, makelar dalam arti kata, sebelum menjadi frase makelar surga, makelar sepeda atau makelar apapun.
Kata makelar konon berasal dari kata bahasa Belanda ‘makelaar’ yang artinya jelas. Ketika menjadi bahasa indonesia diartikan sebagai pialang, calo. Tidak ada kesan negatif dari makelar, bahkan berdasar fungsinya makelar adalah posisi yang sah secara ekonomi, yang berperan sebagai konsultan transaksi. Kira-kira begitu.
Justru yang memubuat makelar bernuansa negatif/positif adalah kata berikutnya; makelar kasus, makelar hukum, makelar sepeda, makelar mobil. Jadi mungkin kesimpulannya justru pemberi kesan negatif atau tidak adalah karena kita ikutan. Tentu dalam jagat ekonomi formal, sepeda, mobil, hp adalah barang-barang yang boleh diperdagangkan. Sehingga dimakelari pun tidak ada masalah. Tetapi ketika kasus, hukum seks misalnya menjadi barang dagangan, inilah kemudian yang memberi nuansa negatif terhadap kata makelar.
Surga diserap dari kata swarga – dalam ajaran Hindu, swarga ditulis svarga yang asalnya dari svar artinya cahaya dan ga artinya perjalanan, cahaya perlambang kebahagiaan. Agak berbeda ketika membandingan dengan jannah yang artinya taman/kebun. Tapi bisa dibenangmerahi bahwa perjalanan ke dunia cahaya dan taman sama-sama dalam keadaan bahagia/kenikmatan.
Pada kenyataannya surga/jannah dipahami oleh muslim secara bervariasi, ada yang menekankan pada aspek ruang, bahwa surga itu kebun yang rindang, yang ada air susunya, yang ada bidadari cantik melayani dengan memuaskan, yang disana apa saja bisa didapatkan. Juga ada yang menekankan pada aspek ‘kondisi/suasana’, bahwa gambaran surga hanyalah untuk mengantarkan pada perumpamaan suasana/kondisi orang yang berada di ruang yang begitu nyaman.
Baik dalam Hindu, Budha mapun Islam, surga bukanlah terminal terakhir perjalanan manusia. Dalam Hindu terminal terakhirnya adalah bersatunya ‘atman’ dan ‘brahman’ yakni menyatunya jiwa individu ke jiwa universal, perjalanan spiritual akan mengalami moksa. Dalam Budha terminal terakhir perjalanan manusia adalah nirvana-nirvana yaitu padam, suatu kebahagiaan yang tidak terjangkau indra, alam kebahagiaan mutlak tanpa bentuk. Sedang dalam Islam terminal terakhir perjalanan manusia adalah illahi rojiun yaitu kembali kepada Tuhan.
Maka ketika surga dalam pengertian ‘suasana/kondisi bahagia’ dimakelari, tentu agak kurang pas, tetapi jika surga dalam pengertian ruang, mungkin makelar bisa mendampingi sebagaimana ada sales ruko, ada makelar tanah atau makelar ‘layanan kenikmatan’. Kodisi bahagia tidak selalu mutlak ditentukan oleh keadaan ruang/tempat tempat yang luar biasa nyaman belum tentu pasti membahagiakan.
Lepas dari tafsir surga yang mengalami keragaman, nyatanya surga adalah idaman setiap muslim. Nampaknya semua muslim tetap mengejar surga, baik yang memandang surga sebagai tujuan akhir hidup, dan tujuan antara hidup maupun yang hanya memandang sebagai ‘akibat dialektis’ hidup.
Jalan ke surga layaknya karcis bioskop yang laris manis, lakunya surga membuat bermunculan makelar. Makelar disini berposisi sebagai orang yang mengambil untung dari posisinya yang dianggap/menganggap dirinya sebagai penunjuk jalan ke surga. Mengambil untung adalah kata kunci dari budaya makelar. Maka siapa saja bisa menjadi makelar surga jika niatnya adalah mengambil untung.
Tentu memberikan kemudahan/keuntungan kepada para penunjuk jalan surga adalah sah dan dianjurkan, sebagaimana juga salah satu yang berhak dibantu adalah para fi sabilillah. Sedangkan dari sisi penempuh fi sabilillah adalah dituntutkan keikhlasan. Disini lah ada semacam “hukum saling memberi dan menerima”. Para pemuka agama tentu alim dalam hal ilmu tentang petunjuk menggapai surga, dan sudah menjadi kewajibannya memberikan petuah-petuahnya kepada umum. Sebaliknya orang yang diberi petuah tentu sadar bahwa memperlancar dan membantu kegiatan agama adalah hal yang dianjurkan.
Hubungan seperti ini menjadi agak transaksional ketika kemudian ada semacam komersialisasi surga. Beberapa fenomena terjadi di masyarakat semisal adanya ‘mahar’ kepada pemuka agama yang dengan jelas bertarif dan menjanjikan ‘keselamatan’. Fenomena seperti itu dalam berbagai ‘kemasan’-nya mungkin juga tidak salah, sebab kesadaran masyarakat tentang bertolong-menolong dalam fi sabilillah semakin tergerus oleh arus ‘transaksi’.
Kita sebagai masyarakat harus jeli, mana yang ditransaksikan dan mana yang tidak bisa. Kapan harus jual beli, kapan harus shodaqoh, kapan harus menyatakan cinta.
Zaman semakin canggih, sekarang bungkus/citra begitu mengaburkan isi yang sesungguhnya. Orang berduyun-duyun mengantri kajian keikhlasan/ketuhanan setelah membeli ‘tiket masuk’ yang cukup mahal dan setelah itu mendapat semacam ‘piagam’. Orang-orang pintar berebut apa yang disebut ‘copyright’ tentang metode jalan sukses, untuk bisa secara legal ditularkan kepada masyarakat dengan embel-embel copyright. Tetapi di pingir sana, ada yang dengan riang gembira membagi petuah surga sama riangnya ketika sedang “ngeloni istri”. Baginya berbagi adalah ekspresi cinta, sebagaimana dia bersetubuh dengan istri, yang merupakan hak sekaligus kewajiban.
Tidak ada yang salah, semua mengalami proses kematangan, pemuka agama dan masyarakat akan terus mencari formula hubungan yang “wata’awanu ‘alalbirri wa taqwa”.
Selamat mencari surga, jika menurutmu surga memang harus dicari bukan dibangun.

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Silahkan Berkomentar


Top