ads

ads

Slider[Style1]

Tajug Syahadat adalah acara rutin bulanan, dengan konsep silaturrahim pikiran berbentuk ngaji bareng, sinau bareng, dialog, diskusi dan apapun yang sifatnya kebersamaan untuk mencari fokus kerangka berfikir, menajamkan hati kemudian mencari formula bersama perihal masalah aktual melalui pendekatan kebudayaan dan humanisme..... (klik di sini)

Artikel

Style3[OneLeft]

Style3[OneRight]

Style5

Ada beragam cara merayakan malam Minggu. Pada hujan yang lebat (4/2/2017) di Arjuna Resto Kudus, teman-teman Tajug Syahadat mengadakan kegiatan diskusi untuk kedua kalinya bertema Makelar Surga. Curah hujan memang tinggi namun tak menghalangi puluhan jamaah hadir. Acara dipandu Arif Lukman Kastury dan  pengisi acara seperti Habib Anis Sholeh Baasyin (Pengasuh Suluk Maleman Pati) Muhajir Arrosyid, Ali Fatkhan (Penggiat Gambang Syafaat), Gus Aniq (Pati) dan Kyai Soleh dari Kudus. Ali Fatkhan memulai diskusi ini dengan menjelaskan makna makelar surga.
Makelar dimaknai sebagai penghubung. Makelar sebenarnya mempunyai makna positif, Justru kata di belakang kata makelar, menjadikan kata tersebut berkesan tidak baik. Misal saja Makelar kasus, makelar hukum bahkan sampai makelar surga. Kita sebagai masyarakat harus jeli, mana yang ditransaksikan dan mana yang tidak bisa. Kapan harus jual beli, kapan harus shodaqoh, kapan harus menyatakan cinta, ujar Ali Fatkhan.
Sementara itu Muhajir Arrosyid berpandangan lain tentang makelar surga. Dari segi sastra, surga sering digunakan sebagai judul di beberapa cerpen dan judul sebuah lagu. Muhajir menambahkan bahwa surga sering dibawa-bawa karena surga adalah sesuatu yang baik dan menyenangkan. Setidaknya terdapat 21 ayat dalam Al-Qur’an yang secara eksplsit menyebut iman dan amal soleh secara beriringan sebagai pembawa manusia menuju surga.
Peran ibu sangatlah sentral. Kita tengok hadist surga berada di telapak kaki ibu. Artinya apa, Allah menyuruh kita menghormati Ibu, menjujung martabat ibu, tidak boleh menyakiti hati ibu. Untuk hadist lainnya, rumahku surgaku lagi-lagi peran ibu menjadi sentral, Ujar Kang Hajir, Sapan akrabnya. Habib Anis juga menambahkan bahwa makna surga di telapak kaki ibu adalah alarm peringatan bagi Ibu. Hadis tersebut dimaknai Habib Anis bahwa Ibu akan menentukan anak-anaknya nanti untuk menuju surga atau tidak. Ibu harus mampu mendidik anak-anankya menjadi baik, jangan sebaliknya.
Habib Anis juga berbicara lebih luas tentang surga. Beliau mengatakan bahwa Negara ini adalah surga bagi orang-orang asing. Banyak orang-orang dari Eropa, Asia, Australia bahkan Amerika berkunjung ke Indonesia karena mereka beranggapan negara ini adalah surga bagi mereka. Namun sebaliknya, orang-orang Indonesia beranggapan bahwa Eropa, Amerika, Australia adalah surga. Banyak orang berkunjung ke luar negeri. Nah, surga memiliki makna yang berbeda tergantung siapa yang memandangnya. Jadi makana surga sangat tergantung dengan perspektif manusia.
Hujan masih saja deras. Tentu ini tak menyurutkan jamaah khidmat dalam menyimak isi pada diskusi kali ini. Malam itu Grup Tanpa nama dengan rebana modernnya menemani jalannya acara diringi sholawatan. Mari kita lanjutkan dengan apa yang disampaikan Habib Anis pada malam itu. Desa-desa di Indonesia adalah surga sesungguhnya. Di desa, ada ikan yang berlimpah, hasil pertanian, perkebunan dan tambang yang luar biasa. Namun kekayaan yang dimiliki desa tersebut dirampok habis-habisan oleh kota. Orang desa sendiri tak merasakan kekayaan sesungguhnya. Kota semakin kaya dan desa semakin miskin. Lihat saja Urbanisasi yang nggilani. Seharusnya tak ada urbanisasi. Orang desa tetap ada di desa. Mengolah kekayaan alam dan menikmatinya dengan gagah berani.  Tak ada lagi orang desa yang meninggalkan istri dan anaknya memnuju ke kota dengan alasan sedih, mencari nafkah. Namun Negara ini memberikan sistem yang tak benar.
Kyai Sofyan mencoba mengigatkan jamaah bahwa surga dan neraka adalah hal berbeda. Surga dan neraka tak bisa dipandang secara fisik namun bisa dijelaskan bahwa keduanya berbeda. Kita harus menyakini bahwa surga memang ada."Jannah memang ada" Begitu ujar beliau. Kyai Sofyan sempat mengapresiasi acara ini karena banyak anak muda di malam minggu berkumpul dengan niat mencari ilmu.
Coba saya lanjutkan lagi. Surga menjadi komoditas menarik di media sosial. Lihat saja facebook. Apakah kalian pernah melihat sebuah status dan kemudian meminta komentar untuk sekedar mengetik Amin? Dengan iming-iming didoakan masuk surga ternyata kemudian banyak yang berkomentar Amin. Sungguh ini sebuah lelucon. Dengan mengetik amin saja, kita mudah memasuki surga. Gus Aniq mencoba menggambarkan tentang dunia media sosial saat ini. Surga bukanlah hasil dari amal perbuatan manusia namun juga sebuah rahmat dari Allah.
Tentu kita menyepakati bahwa surga adalah sesuatu yang indah. Manusia berhak membayangkan keindahan itu. Karena sifat manusia yang selalu menginginkan keindahan dan kenikmatan, surga menjadi impian bagi semua manusia. Namun surga adalah rahmat dari Allah. Semoga kita termasuk golongan yang mendapat rahmat.
Hujan sudah mulai reda. Tajuk Syahadat ditutup dengan alunan sholawatan dari Grup Tanpa Nama dan para jamaah saling bersalaman. (PW)

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Silahkan Berkomentar


Top