ads

ads

Slider[Style1]

Tajug Syahadat adalah acara rutin bulanan, dengan konsep silaturrahim pikiran berbentuk ngaji bareng, sinau bareng, dialog, diskusi dan apapun yang sifatnya kebersamaan untuk mencari fokus kerangka berfikir, menajamkan hati kemudian mencari formula bersama perihal masalah aktual melalui pendekatan kebudayaan dan humanisme..... (klik di sini)

Artikel

Style3[OneLeft]

Style3[OneRight]

Style5

26 Maret 2018





Jangan pernah percaya seorang pria bisa mengalahkan perempuan dalam hal apapun. Para pria tertipu dan menganggap perempuan dari sebatang tulang rusuk mereka. Para perempuan tidak datang dari tulang rusuk pria atau tulang monyet atau tulang siapapun. Para pria lahir dari rahim perempuan, seperti seekor anak kadal yang berenang lepas dari kedalaman air setelah dilahirkan. Seperti anak panah yang melepaskan diri dari busurnya. Para pria berotasi mengelilingi matahari di mata perempuan dan mereka pria - pria ini menganggap telah menciptakan semesta. Inilah letak kesombongan Pria dihadapan perempuan.
Aku tidak memiliki kekuatan mengalirkanmu sepert bendungan atau meredam naluri Keibuanmu yang lebih pantas menjadi imam. Oh, sungguh, mustahil mampu kulakukan! Aku telah menguji ketumpulan pikiran dan ketajaman kebodohanku. Tidak ada, tidak ada yang mampu menaklukkanmu. Karena keperkasaanmu mengalahkanku ternyata. Bahkan di ranjangpun aku begitu loyo dan lemah ketika matamu beradu mataku saja aku seperti hilang kekuatanku saat menjantanimu.
Jangan percaya para pria ketika bicara tentang diri mereka. Dari para perempuanlah tawa dan tangis anak kecil pecah dan pria datang ke rumah sakit bersalin menyebut nama mereka sebagai ayah.
Ini sungguh memalukan. Begitu berdarah - darah seorang perempuan membunuh kelemahan dan merampas kekuatan Tuhan sehingga mampu terus beranak meskipun hanya sarungku yang aku lemparkan saat dirimu tidur.
Bukan soal sarung atau isi yang terselip di sana melainkan karena rahimmu adalah humus kesuburan cinta yang lebih subur dari tanaman pegunungan.
Aku mencintaimu, bahkan sepasang payudaramu melepaskan rasa malu, bergetar, berubah jadi petir dan gelegar guntur, sebilah pedang, dan badai pasir yang hebat kemudian menjelma menjadi oase di kekeringanku sehingga aku meneguk kesegaranmu hingga berabad - abad. Bahkan aku lungkruh tanpamu

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Silahkan Berkomentar


Top